Apa itu Antropologi Linguistik?

Antropologi linguistik adalah salah satu cabang linguistik yang menelaah hubungan antara bahasa dan budaya terutama untuk mengamati penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat dalam tindakan bermasyarakat.
Semua mahluk hidup mempunyai cara tersendiri untuk berkomonikasi melalaui lambang atau kode yang telah diketahui. Coba kita perhatikan, bagaimana seekor kucing atau ayam mengajak anak-anaknya untuk datang mendekat karena ada makanan yang ditemukan melalui tanda atau kode suaru tertentu, atau burung merpati jantan yang ingin sedang menggoda sang betina dengan memamerkan bulu-bulunya sambil bersura menyerupai nyanyian, atau sekawanan rusa yang tiba-tiba induknya bersura lantang memberikan kode bahwa kelompoknya telah terancam oleh beberapa kawanan harimaun atau singa, serigala yang meraung tengah malam di tengah hutan. Di laut, binatang jenius seperti ikan lumba-lumba membunyikan suara yang dapat didengar oleh kawanan lainya dalam radius beberapa puluh mil.
Kesemua itu adalah sutu kode atau tanda yang secara naluriah telah difahami oleh binatang tersebut dalam melakukan komonikasi dengan kelompok sejenisnya sejak dia ada di permukaan bumi sampai sekarang. Artinya tanda atau kode tidak mengalami perubahan apapun. Sehingga semua binatang tersebut tidak mampu mengembangkan atau menciptakan lambang atau kode yang kompleks dan berkemmbang sedemikian rupa seperti halnya yang diciptakan dan yang dimiliki oleh manusia. Antropologi mencoba memahami tentang asal muasal suatu bahasa dipergunakan yang oleh manusia, baik secara lisan maupun dalam struktur yang tertulis. Sejarah perkembangan bahasa tersebut hingga melahirkan percabangan baru dan pengaruh mempengaruhi antara satu bahasa yang melahirkan bahasa serumpun . 
Struktur kosa kata yang diciptakan manusia sangat terkait dengan keadaan emperis lingkungan alam sekitar kosa kata itu, karena manusia secara nyata terlibat dalam mengolah benda-benda sehingga diperlukan penamaan kosa kata untuk mempermudah peggunaanya. Contohnya, dalam bahasa Inggris dikenal kata race yang dalam Bahasa Indonesia adalah nasi. Namun kosa kata nasi itu berasal dari suatu tanaman yang dinamakan padi. Untuk orang Indonesia dalam kosa kata “nasi” terkait dengan “padi” artinya pohon yang menghasilkan nasi, padi itu terletak dalam suatu area yang dinamakan sawah, setelah dipanen dan dipisahkan dari tangkainya, padi itu kemudian dinamakan gabah, setelah gabah digiling maka akan mengsilkan beras, beras kalau dimasak lalu siap disantap namanya nasi, kalau dimasak dengan takaran air yang banyak menjadi bubur. Namun bagi orang Inggris, semua kosa kata padi, gabah, beras, nasi dan bubur dinamakan race. 
Hal demikian bisa terjadi karena sistem penciptaan kosa kata yang dimaksud tidak terkait langsung dengan keadaan emperik benda atau barang tersebut dalam aktivitas suatu suku bangsa akan tetapi juga meliputi semua aktivitas mulai dari proses awal sampai menghasilkan suatu obyek yang final. 
Dalam bahasa yang dipakai oleh al-Qur’an kita mengenal urain kata menjadi berbagai bentuk yaitu “Tasrif 10” dan Dhamir 14”. Tasrif sepuluh artinya sistem penamaan suatu kata ke dalam sepuluh macam bentuk kegiatan atau makna. Seperti ALIMA (dia telah mengetahui)- YA’LAMU (dia sedang mengetahui) -AL’MAN (pengetahuan) -A’LIMUN (yang mengetahui) -MA’LU’MUN (yang diketahui), I’LAM (ketahuilah)- LA TA’LAM (jangan mengetaghui) -MI’LAMUN (alat menegathui), MA’LU’MUN waktu mengetahui) -MA’LU’MUN (tenpat mengetahui). Coba perhatikan, hanya dalam satu kosa kata saja dengan berbagai perubahan bentuk dan bukan penambahan suku kata, namun bisa menghasilkan berbagai makna apabila diterjemahkan kedalam bahasa suku bangsa yang lain. 
Jasa besar yang diteliti oleh ahli linguistik telah memberikan sumbangan berarti dalam mendeteksi bahasa yang diapakai suatu suku bangsa pada masa silam, dan dalam perkembanganya telah terjadi berbagai perubahan karena dipengaruhi oleh bahasa lain disekitarnya atau karena telah melahirkan produk kebudayaan yang baru sehingga lambat laun memproduksi bahasa, dalam arti, kata dan kalimat menjadi berubah menjadi bentuk yang baru. Seperti di Jawa, kita kenal dengan Bahasa Kawi (Bahasa Jawa Kuno), di Sulawesi Selatan ada bahasa Bugis kuno, bahasa-bahasa tersebut telah mengalami perubahan yang signifikan sehingga kebanyakan generasi orang Jawa dan orang Bugis sekarang tidak bisa lagi memahami bahasa masa lampaunya, namun masih beruntung karena sistem bahasa itu telah ditulis sehingga jejak-jejak nya masih bisa dilihat dan dipelajari. Begitu pentingnya nilai bahasa dalam suatu kebudayaan sehingga bahasa dipandang sebagai pintu gerbang memahami kebudayaan suatu suku bangsa. 
Bahasa menjadi alat yang paling ampuh dalaam mengukur kemajuan suatu kebudayaan, dalam perkembangan kini bahasa justru dipakai sebagai alat untuk menguasai bangsa lain sebagaimana dalam sejarah jajahan, bangsa-bangsa yang pernah dijajah oleh Inggris, Spanyol dan Portugal, Perancis justru menjadikan bahasa jajajan tersebut sebagai bahasa utatma atau bahasa kedua nasional. Dan kini bahasa yang paling dikenal dan dipakai oleh masyarakat dunia baik dalam bahasa sehari-hari maupun bahasa nasionalnya mampu mempengaruhi bahasa nasional negara lain adalah Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Perancis. Adapun bahasa Cina yang dipakai hampir 2 milyar manusia, namun pemakian bahasa Cina terkait dengan kultur etniknya sebagai orang Cina yang bermigrasi ke berbagai tempat di dunia, karena bangsa Cina tidak termasuk dalam jajaran bangsa penjajah sehingga bahasa Cina tidak termasuk bahasa penjajah dikala itu. 
Jadi bahasa menjadi ujung tombak penyebaran kebudayaan ke tempat lain di dunia. Kini Negara yang memakai bahasa popular seperti bahasa Inggris, Arab, Cina, Perancis, Jepang, Jerman juga adalah Negara yang dianggap telah berkembang pesat kemajuan kebudayaan dan peradabanya. 

Komentar